<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-457248607798593997</id><updated>2011-08-24T07:29:46.168-07:00</updated><title type='text'>Sastra Untuk Kita Semua</title><subtitle type='html'>semoga artikel ini tidak membosankan anda</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://yogijd28.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Yogi Januar Mufthi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03448455239265905302</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4e4PI6a4Nqc/TI3o6Vw_P8I/AAAAAAAAAAM/oQ8ITmLbN7o/S220/yogi.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>5</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-457248607798593997.post-6124200290480852487</id><published>2010-11-26T20:22:00.000-08:00</published><updated>2010-11-26T20:22:06.893-08:00</updated><title type='text'>Kata Serapan</title><content type='html'>&lt;div class="entry"&gt;      &amp;nbsp;&amp;nbsp; Kata serapan antar bahasa adalah hal yang lumrah. jika terjadi  kontak bahasa lewat pemakai pasti akan terjadi serap menyerap kata.  Dengan adanya proses penyerapan akan menimbulkan saling meminjam dan  saling pengaruh unsur asing. Peminjaman ataupun penyerapan dari suatu  bahasa itu sendiri pasti di latar belakangi oleh berbagai macam faktor.  Yang biasanya mengalami perubahan atas proses  penyerapan adalah bunyi  bahasa dan kosa kata.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Bahasa Indonesia sendiri selama pertumbuhannya banyak mengalami  serapan dari bahasa-bahasa asing seperti bahasa Sansekerta, bahasa Arab,  bahasa Inggris dan bahasa Belanda. Masukkan unsur bahasa asing tersebut   sejalan dengan histori bangsa Indonesia tentunya.&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp; Berawal dari bahasa sansekerta yang datang bersamaan dengan ajaran  hindu budha di Indonesia, kemudian bahasa  Belanda yang  sejalan dengan  proses penjajahan bangsa Belanda. Setelah penjajahan bangsa Belanda usai  adalah masa perdagangan antara bangsa timur tingah dengan bangsa  Indonesia  dan proses keagamaan  yang menyebabakan terajdinya penyerapan  bahasa Arab.Yang terakhir adalah bahasa Inggris dan itu terjadi hingga  sekarang, faktor yang begitu dominan tentunya karena pertukaran ilmu  pengetahuan dan teknologi  antara bangsa Indonesia dengan bangsa-bangsa  pengguna bahasa Inggris. Selain bahasa-bahasa tersebut menurut   wikipedia.com ada beberapa bahasa seperti cina, portugis, tamil, parsi,  hindi yang ikut terserap oleh bahasa Indonesia namun memiliki persentasi  yang tidak sebesar empat bahasa yang saya jelaskan sebelumnya diatas.&lt;br /&gt;Contoh kata serapan antara lain:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;edukasi&lt;/em&gt; berasal dari education (Inggris)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;hikmah&lt;/em&gt; berasala dari kata hikmat (Arab)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;besuk&lt;/em&gt; berasal dari kata bezoek (Belanda)&lt;br /&gt;&lt;em&gt;aniaya&lt;/em&gt; berasal dari kata anyaya (Sansekerta)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://tulisanria.wordpress.com/2009/10/08/kata-serapan/ &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/457248607798593997-6124200290480852487?l=yogijd28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yogijd28.blogspot.com/feeds/6124200290480852487/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/11/kata-serapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/6124200290480852487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/6124200290480852487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/11/kata-serapan.html' title='Kata Serapan'/><author><name>Yogi Januar Mufthi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03448455239265905302</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4e4PI6a4Nqc/TI3o6Vw_P8I/AAAAAAAAAAM/oQ8ITmLbN7o/S220/yogi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-457248607798593997.post-6449720524505220834</id><published>2010-10-16T02:50:00.000-07:00</published><updated>2010-10-16T02:50:03.613-07:00</updated><title type='text'>Dasar-Dasar Bermain Drama</title><content type='html'>Drama adalah kisah  hidup dan kehidupan manusia yang diceritakan di  atas pentas dengan media&amp;nbsp;  percakapan(dialog), gerak dan tingkah laku.  Naskah merupakan hal utama dalam  bermain drama (modern) karena ia  merupakan panduan bagi para pemeran (aktor) di  atas pentas. Selain  naskah, ada unsur-unsur lain yang sangat menentukan yaitu  dekorasi  (setting), musik, lighting, make up,kostum,nyanyian, tarian, dan unsur   penunjang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;NASKAH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Naskah disini diartikan sebagai bentuk   tertulis dari suatu drama. Sebuah naskah walaupun telah dimainkan  berkali-kali,  dalam bentuk yang berbeda-beda, naskah tersebut tidak  akan berubah mutunya.  Sebaliknya sebuah atau beberapa drama yang  dipentaskan berdasarkan naskah yang  sama dapat berbeda mutunya. Hal ini  tergantung pada penggarapan dan situasi,  kondisi, serta tempat dimana  dimainkan naskah tersebut. Selain dialog, sebuah naskah yang baik  harus  memiliki tema, tokoh dan plot atau rangka cerita.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tema&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tema adalah rumusan inti sari cerita yang  dipergunakan dalam menentukan arah dan  tujuan cerita. Dari tema inilah  kemudian ditentukan tokoh-tokohnya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tokoh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam cerita drama tokoh merupakan unsur  yang paling aktif yang menjadi  penggerak cerita.oleh karena itu seorang  tokoh haruslah memiliki karakter, agar  dapat berfungsi sebagai  penggerak cerita yang baik. Disamping itu dalam naskah  akan ditentukan  dimensi-dimensi sang tokoh. Biasanya ada 3 dimensi yang  ditentukan  yaitu:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Dimensi fisiologi &lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(ciri-ciri badani) antara lain&amp;nbsp;usia, jenis kelamin, keadaan tubuh, cirri-ciri muka,dll.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Dimensi sosiologi&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(latar  belakang) kemasyarakatan misalnya&amp;nbsp;status sosial, pendidikan, pekerjaan,  peranan dalam masyarakat, kehidupan  pribadi, pandangan hidup, agama,  hobby, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Dimensi psikologis&lt;/strong&gt;&amp;nbsp;(latar  belakang kejiwaan) misalnya&amp;nbsp;temperamen, mentalitas, sifat, sikap dan  kelakuan, tingkat kecerdasan, keahlian  dalam bidang tertentu,  kecakapan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Apabila kita mengabaikan salah satu  saja dari ketiga dimensi diatas, maka tokoh yang akan kita perankan akan  menjadi tokoh yang kaku, timpang, bahkan cenderung  menjadi tokoh yang  mati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Plot&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Plot adalah alur atau kerangka cerita.  Plot merupakan suatu keseluruhan peristiwa  didalam naskah. Secara  garis besar, plot drama dapat dibagi menjadi beberapa  bagian yaitu:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Pemaparan&lt;/strong&gt; (eksposisi)&lt;br /&gt;Bagian pertama dari suatu  pementasan drama adalah pemaparan atau eksposisi. Pada  bagian ini  diceritakan mengenai tempat, waktu dan segala situasi dari para   pelakunya. Kepada penonton disajikan sketsa cerita sehingga penonton  dapat  meraba dari mana cerita ini dimulai. Jadi eksposisi berfungsi  sebagai pengantar  cerita. Pada umumnya bagian ini disajikan dalam  bentuk sinopsis.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Komplikasi awal atau konflik awal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kalau pada  bagian pertama tadi situasi cerita masih dalam keadaan seimbang maka   pada bagian ini mulai timbul suatu perselisihan atau komplikasi. Konflik   merupakan kekuatan penggerak drama.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Klimaks dan krisis&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Klimaks dibangun melewati  krisis demi krisis. Krisis adalah puncak plot dalam  adegan. Konflik  adalah satu komplikasi yang bergerak dalam suatu klimaks.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Penyelesaian (denouement)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Drama terdiri dari  sekian adegan yang di dalamnya terdapat krisis-krisis yang  memunculkan  beberapa klimaks. Satu klimaks terbesar dibagian akhir selanjutnya   diikuti adegan penyelesaian.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Dialog&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dialog berisikan kata-kata. Dalam drama  para tokoh harus berbicara dan apa yang diutarakan mesti sesuai dengan  perannya, dengan tingkat kecerdasannya, pendidikannya, dsb. Dialog  berfungsi untuk mengemukakan persoalan, menjelaskan perihal tokoh,  menggerakkan plot maju, dan membukakan fakta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;LATIHAN DASAR&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dalam bermain drama ada yang  disebut dengan akting. Akting adalah pelafalan  dialog (yang tertulis di  dalam naskah) disertai dengan gerak atau gesture.  Seorang aktor  dikatakan baik apabila ia sanggup membawakan dialog sesuai dengan   karakter tokoh yang diperankannya. Dialog itu bisa terdengar (volume  baik),  jelas (artikulasi baik), dimengerti (lafal benar), dan aktor  bisa menghayati  sesuai dengan tuntutan/jiwa peran yang ditentukan dalam  naskah. Seorang aktor  yang baik akan mampu membawakan dialog tersebut  dengan gerak yang pas (tidak  berlebihan atau dibuat-buat). Ia bergerak  dengan leluasa (blocking baik) &amp;nbsp;tidak  ragu ragu ( meyakinkan),  dimengerti (sesuai dengan hukum gerak dalam kehidupan),  dan juga bisa  menghayati sesuai dengan tuntutan &amp;nbsp;peran yang ditentukan dalam  naskah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;BLOCKING&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Yang dimaksud dengan blocking adalah  kedudukan aktor pada saat di atas pentas. Dalam permainan drama,  blocking yang baik sangat diperlukan, oleh karena itu pada waktu bermain  kita harus selalu mengontrol tubuh kita agar tidak merusak blocking.  &amp;nbsp;Blocking tersebut harus seimbang, utuh, bervariasi dan memiliki titik  pusat perhatian serta wajar.Jelas, tidak ragu ragu, meyakinkan.  Kesemuanya itu mempunyai pengertian bahwa gerak yang dilakukan jangan  setengah setengah dan jangan sampai berlebihan. Kalau ragu ragu terkesan  kaku sedangkan kalau berlebihan terkesan over acting&lt;br /&gt;Bocking harus  dimengerti (wajar). &amp;nbsp;Apa yang kita wujudkan dalam bentuk gerak tidak  menyimpang dari hukum gerak dalam kehidupan. Misalnya bila mengangkat  barang yang berat dengan tangan kanan, maka tubuh kita akan miring ke  kiri, dsb.&lt;br /&gt;Blocking harus memiliki motivasi yang jelas berarti  gerak-gerak anggota tubuh maupun gerak wajah harus sesuai tuntutan peran  dalam naskah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Seimbang&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seimbang berarti kedudukan pemain,  termasuk juga benda-benda yang ada diatas panggung (setting) tidak  mengelompok di satu tempat, sehingga mengakibatkan adanya kesan berat  sebelah. Jadi semua bagian panggung harus terwakili oleh pemain atau  benda-benda yang ada di panggung. Penjelasan lebih lanjut mengenai  keseimbangan panggung ini akan disampaikan pada bagian mengenai  "Komposisi Pentas".&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Utuh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Utuh berarti blocking yang ditampilkan  hendaknya merupakan suatu kesatuan. Semua penempatan dan gerak yang  harus dilakukan harus saling menunjang dan tidak saling menutupi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Bervariasi&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Bervariasi artinya bahwa kedudukan  pemain tidak disuatu tempat saja, melainkan membentuk  komposisi-komposisi baru sehingga penonton tidak jenuh. Keadaan seorang  pemain jangan sama dengan kedudukan pemain lainnya. Misalnya sama-sama  berdiri, sama-sama jongkok, menghadap ke arah yang sama, dsb. Kecuali  kalau memang dikehendaki oleh naskah.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Memiliki titik pusat&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Memiliki titik pusat  artinya setiap penampilan harus memiliki titik pusat perhatian. Hal ini  penting artinya untuk memperkuat peranan lakon dan mempermudah penonton  untuk melihat dimana sebenarnya titik pusat dari adegan yang sedang  berlangsung. Antara pemain juga jangan saling mengacau sehingga akan  mengaburkan dimana sebenarnya letak titik perhatian.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Wajar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Wajar artinya setiap penempatan pemain  ataupun benda-benda haruslah tampak wajar, tidak dibuat-buat. Disamping  itu setiap penempatan juga harus memiliki motivasi dan harus beralasan.&lt;br /&gt;Dalam drama kontemporer kadang-kadang naskah tidak menuntut blocking  yang sempurna, bahkan kadang-kadang juga sutradara atau naskah itu  sendiri sama sekali meninggalkan prinsip-prinsip blocking. Ada juga  naskah yang menuntut adanya gerak-gerak yang seragam diantara para  pemainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;MEDITASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Secara umum arti  meditasi adalah mencoba untuk menenangkan pikiran. Dalam teater dapat  diartikan sebagai suatu usaha untuk menenangkan dan mengosongkan pikiran  dengan tujuan untuk memperoleh kestabilan diri.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tujuan Meditasi:&lt;br /&gt;Mengosongkan pikiran.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita  mencoba mengosongkan pikiran kita, dengan jalan membuang segala sesuatu  yang ada dalam pikiran kita, tentang berbagai masalah baik itu masalah  keluarga, sekolah, pribadi dan sebagainya. Kita singkirkan semua itu  dari otak kita agar pikiran kita bebas dari segala beban dan ikatan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Meditasi sebagai jembatan&lt;/strong&gt;.&lt;br /&gt;Disini alam latihan  kita sebut sebagai alam "semu", karena segala sesuatu yang kita kerjakan  dalam latihan adalah semu, tidak pernah kita kerjakan dalam kehidupan  sehari-hari. Jadi setiap gerak kita akan berbeda dengan kelakuan kita  sehari-hari. Untuk itulah kita memerlukan suatu jembatan yang akan  membawa kita dari alam kehidupan kita sehari-hari ke alam latihan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara meditasi:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Posisi tubuh tidak terikat, dalam  arti tidak dipaksakan. Tetapi yang biasa dilakukan adalah dengan duduk  bersila, badan usahakan tegak. Cara ini dimaksudkan untuk memberi  bidang/ruangan pada rongga tubuh sebelah dalam.&lt;br /&gt;Atur pernapasan dengan baik, hirup udara pelan-pelan dan keluarkan  juga dengan perlahan. Rasakan seluruh gerak peredaran udara yang masuk  dan keluar dalam tubuh kita.&lt;br /&gt;Kosongkan pikiran kita, kemudian  rasakan suasana yang ada disekeliling kita dengan segala perasaan. Kita  akan merasakan suasana yang hening, tenang, bisu, diam tak bergerak.  Kita menyuruh syaraf kita untuk lelap, kemudian kita siap untuk  berkonsentrasi.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu saat mungkin kita kehilangan  rangsangan untuk berlatih, seolah-olah timbul kelesuan dalam setiap  gerak dan ucapan. Hal ini sering terjadi akibat diri terlalu lelah atau  terlalu banyak pikiran. Jika hal ini tidak diatasi dan kita paksakan  untuk berlatih, maka akan sia-sia belaka. Cara untuk mengatasi adalah  dengan MEDITASI. Meditasi juga perlu dilakukan bila kita akan bermain di  panggung, agar kita dapat mengkonsentrasikan diri kita dengan peran  yang hendak kita bawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KONSENTRASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Konsentrasi secara umum berarti "pemusatan". Dalam teater kita  mengartikannya dengan pemusatan pikiran terhadap alam latihan atau  peran-peran yang akan kita bawakan agar kita tidak terganggu dengan  pikiran-pikiran lain, sehingga kita dapat menjiwai segala sesuatu yang  kita kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Cara konsentrasi:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kita harus melakukan dahulu  meditasi. Kita kosongkan dulu pikiran kita, dengan cara-cara yang sudah  ditentukan. Kita kerjakan sesempurna mungkin agar pikiran kita  benar-benar kosong dan siap berkonsentrasi.&lt;br /&gt;Setelah pikiran kita  kosong, mulailah memasuki otak kita dengan satu unsur pikiran. Rasakan  bahwa saat ini sedang latihan, kita memasuki alam semu yang tidak kita  dapati dalam kehidupan sehari-hari. Jangan memikirkan yang lain, selain  bahwa kita saat ini sedang latihan teater.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada saat kita akan membawakan suatu  peran, misalnya sebagai ayah, nenek, gadis pemalu dan sebagainya, baik  itu dalam latihan atau pementasan, konsentrasikan pikiran kita pada hal  tersebut. Jangan sekali-kali memikirkan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PERNAPASAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seorang artis panggung, baik itu dramawan ataupun penyanyi, maka untuk  memperoleh suara yang baik ia memerlukan pernapasan yang baik pula. Oleh  karena itu ia harus melatih pernapasan/alat-alat pernapasannya serta  mempergunakannya secara tepat agar dapat diperoleh hasil yang maksimum,  baik dalam latihan ataupun dalam pementasan.&lt;br /&gt;Ada empat macam pernapasan yang biasa dipergunakan:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pernapasan dada&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada pernapasan dada kita  menyerap udara kemudian kita masukkan ke rongga dada sehingga dada kita  membusung. Di kalangan orang orang teater pernapasan dada biasanya tidak  dipergunakan karena disamping daya tampung atau kapasitas dada untuk  udara sangat sedikit, juga dapat mengganggu gerak/akting sang aktor,  karena bahu menjadi kaku.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pernapasan perut&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dinamakan pernapasan perut jika  udara yang kita hisap kita masukkan ke dalam perut sehingga perut kita  menggelembung. Pernapasan perut dipergunakan oleh sebagian dramawan,  karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya tampungnya lebih banyak  dibandingkan dada.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pernapasan lengkap&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pada pernapasan lengkap kita  mempergunakan dada dan perut untuk menyimpan udara, sehingga udara yang  kita serap sangat banyak (maksimum). Pernapasan lengkap dipergunakan  oleh sebagian artis panggung yang biasanya tidak terlalu mengutamakan  akting, tetapi mengutamakan vokal.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pernapasan diafragma&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Diafragma adalah bagian  tubuh kita yang terletak diantara rongga dada dan perut. Sedangkan yang  dimaksud dengan Pernapasan diafragma adalah ketika sang aktor itu  mengambil udara sebanyak-banyaknya kemudian disimpan di diafragma dan  rasakan bahwa diafragma itu benar-benar mengembang. Hat ini dapat kita  rasakan dengan mengembangnya perut, pinggang, bahkan bagian belakang  tubuh di sebelah atas pinggul kita juga turut mengembang.&lt;br /&gt;Menurut  perkembangan akhir akhir ini, banyak orang teater yang mempergunakan  pernapasan diafragma, karena tidak banyak mengganggu gerak dan daya  tampungnya lebih banyak dibandingkan dengan pernapasan perut.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latihan latihan pernapasan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama kita  menyerap udara sebanyak mungkin. Kemudian masukkan ke dalam dada,  kemudian turunkan ke perut, sampai di situ napas kita tahan. Dalam  keadaan demikian tubuh kita gerakkan turun sampai batas maksimurn bawah.  Setelah sampai di bawah, lalu naik lagi ke posisi semula, barulah napas  kita keluarkan kembali.&lt;br /&gt;Cara kedua adalah menarik napas dan mengeluarkannya kembali dengan cepat.&lt;br /&gt;Cara berikutnya adalah menarik napas dalam dalam, kemudian keluarkan  lewat mulut dengan mendesis, menggumam, ataupun cara cara lain. Di sini  kita sudah mulai menyinggung vokal.&lt;br /&gt;*Catatan: Bila sudah menentukan  pernapasan apa yang akan kita pakai, disarankan agar janganlah beralih  ke bentuk pernapasan yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;VOKAL&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Untuk  menjadi seorang pemain drama yang baik, maka dia harus mernpunyai dasar  vokal yang baik pula. "Baik" di sini diartikan&amp;nbsp; sebagai berikut:&lt;br /&gt;- dapat terdengar (dalam jangkauan penonton, sampai penonton, yang paling  belakang),&lt;br /&gt;- jelas (artikulasi/pengucapan yang tepat),&lt;br /&gt;- tersampaikan misi (pesan) dari dialog yang diucapkan, dan&lt;br /&gt;- tidak monoton.&lt;br /&gt;Untuk mempunyai vokal yang baik ini, maka perlu dilakukan latihan  latihan vokal. Banyak cara, yang dilakukan untuk melatih vokal, antara  lain:&lt;br /&gt;1. Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil  menghentakan suara "wah…"  dengan energi suara. Lakukan&amp;nbsp;&amp;nbsp; ini berulang  kali.&lt;br /&gt;2. Tariklah napas, lantas keluarkan lewat mulut sambil menggumam "mmm…mmm…" (suara  keluar lewat hidung).&lt;br /&gt;3. Sama dengan latihan kedua, hanya keluarkan dengan suara mendesis,"ssss……."&lt;br /&gt;4. Hirup udara banyak banyak, kemudian keluarkan vokal "aaaaa……." sampai batas  napas yang terakhir. Nada suara jangan berubah.&lt;br /&gt;5. Sama dengan latihan di atas, hanya nada (tinggi rendah suara) diubah-ubah naik  turun (dalam satu tarikan napas)&lt;br /&gt;6. Keluarkan vokal "a…..a……" secara terputus-putus.&lt;br /&gt;7. Keluarkan suara vokal "a i u e o", "ai ao au ae ", "oa oi oe ou",  "iao iau iae aie aio aiu oui oua uei uia ......" dan sebagainya.&lt;br /&gt;8. Berteriaklah sekuat kuatnya sampai ke tingkat histeris.&lt;br /&gt;9. Bersuara, berbicara, berteriak sambil berialan, jongkok, bergulung  gulung, berlari, berputar putar dan berbagai variasi lainnnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;*Catatan:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Apabila suara kita menjadi serak karena latihan latihan tadi, janganlah  takut. Hal ini biasa terjadi apabila kita baru pertama kali melakukan.  Sebabnya adalah karena lendir lendir di tenggorokan terkikis, bila kita  bersuara keras. Tetapi bila kita sudah terbiasa, tenggorokan kita sudah  agak longgar dan selaput suara (larink) sudah menjadi elastis. Maka  suara yang serak tersebut akam menghilang dengan sendirinya. Dan ingat,  janganlah terlalu memaksa alat alat suara untuk bersuara keras, sebab  apabila dipaksakan akan dapat merusak alat alat suara kita. Berlatihlah  dalam batas-batas yang wajar.&lt;br /&gt;Latihan ini biasanya dilakukan di alam  terbuka. misalnya di gunung, di tepi sungai, di dekat air terjun dan  sebagainya. Di sana kita mencoba mengalahkan suara suara di sekitar  kita, disamping untuk menghayati karunia Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ARTIKULASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Artikulasi yang dimaksud adalah pengucapan kata melalui mulut agar  terdengar dengan baik dan benar serta jelas, sehingga telinga  pendengar/penonton dapat mengerti pada kata kata yang diucapkan. Pada  pengertian artikulasi ini dapat ditemukan beberapa sebab yang  mongakibatkan terjadinya artikulasi yang kurang/tidak benar, yaitu:&lt;br /&gt;Cacat artikulasi alam: cacat artikulasi ini dialami oleh orang yang  berbicara gagap atau orang yang sulit mengucapkan salah satu konsonon,  misalnya "r", dan sebagainya.&lt;br /&gt;Artikulasi jelek ini bukan disebabkan  karena cacat artikulasi, melainkan terjadi sewaktu waktu. Hal ini sering  terjadi pada pengucapan naskah/dialog.&lt;br /&gt;Misalnya:&lt;br /&gt;&lt;em&gt;Kehormatan&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;kormatan,&lt;br /&gt;menyambung&lt;/em&gt; menjadi &lt;em&gt;mengambung,&lt;/em&gt; dan sebagainya.&lt;br /&gt;Artikulasi jelek disebabkan karena belum terbiasa pada dialog,  pengucapan terlalu cepat, gugup, dan sebagainya. Sedangkan artikulasi  menjadi tak tentu: hal ini terjadi karena pengucapan kata/dialog terlalu  cepat, seolah olah kata demi kata berdempetan tanpa adanya jarak sama  sekali.&lt;br /&gt;Untuk mendapatkan artikulasi yang baik maka kita harus melakukan latihan:&lt;br /&gt;Mengucapkan alfabet dengan benar, perhatikan bentuk mulut pada setiap  pengucapan. Ucapkan setiap huruf dengan nada nada tinggi, rendah,  sengau, kecil, besar, dsb. Juga ucapkanlah dengan berbisik.&lt;br /&gt;Variasikan dengan pengucapan lambat, cepat, naik, turun, dsb&lt;br /&gt;Membaca kalimat dengan berbagai variasi seperti di atas. Perhatikan juga bentuk  mulut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GESTIKULASI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Gestikulasi  adalah suatu cara untuk memenggal kata dan memberi tekanan pada kata  atau kalimat pada sebuah dialog. Jadi seperti halnya artikulasi,  gestikulasi pun merupakan bagian dari dialog, hanya saja fungsinya yang  berbeda. Gestikulasi tidak disebut pemenggalan kalimat karena dalam  dialog satu kata dengan satu kalimat kadang kadang memiliki arti yang  sama. Misalnya kata "Pergi !!!!" dengan kalimat "Angkat kaki dari sini  !!!". Juga dalam drama bisa saja terjadi sebuah dialog yang berbentuk  "Lalu ?" , "Kenapa ?" atau "Tidak !" dan sebagainya. Karena itu  diperlukan suatu ketrampilan dalam memenggal kata pada sebuah dialog.&lt;br /&gt;Gestikulasi harus dilakukan, sebab kata kata yang pertama dengan kata  berikutnya dalam sebuah dialog dapat memiliki maksud yang berbeda.  Misalnya: "Tuan kelewatan. Pergi!". Antara "Tuan kelewatan" dan "Pergi"  harus dilakukan pemenggalan karena antara keduanya memiliki maksud yang  berbeda. Hal ini dilakukan agar lebih lancar dalam memberikan tekanan  pada kata. Misalnya "Tuan kelewatan"....... (mendapat tekanan),  "Pergi…." (mendapat tekanan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;INTONASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seandainya pada dialog yang kita ucapkan, kita tidak menggunakan  intonasi, maka akan terasa monoton, datar dan membosankan. Yang dimaksud  intonasi di sini adalah tekanan tekanan yang diberikan pada kata,  bagian kata atau dialog. Dalam tatanan intonasi, terdapat tiga macam,  yaitu:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tekanan Dinamik (keras lemah)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ucapkanlah dialog  pada naskah dengan melakukan penekanan penekanan pada setiap kata yang  memerlukan penekanan. Misainya saya pada kalimat "Saya membeli pensil  ini" Perhatikan bahwa setiap tekanan memiliki arti yang berbeda. Misal:&lt;br /&gt;SAYA membeli pensil ini. (Saya, bukan orang lain)&lt;br /&gt;Saya MEMBELI pensil ini. (Membeli, bukan, menjual)&lt;br /&gt;Saya membeli PENSIL ini. (Pensil, bukan buku tulis)&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tekanan Nada (tinggi)&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Cobalah mengucapkan  kalimat/dialog dengan memakai nada/aksen, artinya tidak mengucapkan  seperti biasanya. Yang dimaksud di sini adalah membaca/mengucapkan  dialog dengan Suara yang naik turun dan berubah ubah. Jadi yang dimaksud  dengan tekanan nada ialah tekanan tentang tinggi rendahnya suatu kata.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Tekanan Tempo&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Tekanan tempo adalah memperlambat  atau mempercepat pengucapan. Tekanan ini sering dipergunakan untuk lebih  mempertegas apa yang kita maksudkan. Untuk latihannya cobalah membaca  naskah dengan tempo yang berbeda beda. Lambat atau cepat silih berganti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;WARNA SUARA&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Hampir setiap orang memiliki warna suara yang berbeda. Demikian pula  usia sangat mempengaruhi warna suara. Misalnya saja seorang kakek, akan  berbeda warna suaranya dengan seorang anak muda. Seorang ibu akan  berbeda warna suaranya dengan anak gadisnya. Apalagi antara laki laki  dengan perempuan, akan sangat jelas perbedaan warna suaranya. Jadi  jelaslah bahwa untuk membawakan suatu dialog dengan baik, maka selain  harus memperhatikan artikulasi, gestikulasi dan intonasi, harus  memperhatikan juga warna suara. Sebagai latihan dapat dicoba merubah  rubah warna suara dengan menirukan warna suara seorang tua, pengemis,  anak kecil, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Selain mengenai dasar dasar vokal di atas, dalam sebuah dialog  diperlukan juga adanya suatu penghayatan. Mengenai penghayatan ini akan  diterangkan dalam bagian tersendiri. Untuk latihan cobalah membaca  naskah berikut ini dengan menggunakan dasar dasar vokal seperti di atas.&lt;br /&gt;(Kang Dul masuk tergopoh gopoh)&lt;br /&gt;Kang Dul: Aduh Mas….e…..e…..itu, Mas…. Anu…. Mas….a….a….ada mahasiswa  bawa mobil, pakaiannya bagus. Saya takut, Mas, mungkin dia orang kota,  Mas.&lt;br /&gt;Bambang: Goblog ! Kenapa Takut ? Kenapa tidak kau kumpulkan saja orang-orangmu  untuk mengusirnya ?&lt;br /&gt;Pak Slamet: (kepada Bambang) Kau lebih-lebih Goblog ! Kau membohongi  saya ! Kau tadi lapor apa ?! Sudah tidak ada orang kota yang masuk ke  daerah kita, hei ! (sambil mencengkeram Bambang).&lt;br /&gt;Bambang: Sungguh, Pak, sudah lama tidak ada orang kota yang masuk.&lt;br /&gt;Pak Slamet: (membentak sambil mendorong) Diam Kamu !&lt;br /&gt;(kepada Kang Dul) Di mana dia sekarang ?&lt;br /&gt;Kang Dul: Di sana Pak, nongkrong di kantin sambil main leptop.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;OLAH TUBUH&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sebelum kita melangkah lebih jauh untuk mempelajari seluk beluk gerak,  maka terlebih dahulu kita harus mengenal tentang olah tubuh. Olah tubuh  (bisa juga dikatakan senam), sangat perlu dilakukan sebelum kita  mengadakan latihan atau pementasan. Dengan berolah tubuh kita akan,  mendapat keadaaan atau kondisi tubuh yang maksimal. Selain itu olah  tubuh juga mempunyai tujuan melatih atau melemaskan otot otot kita  supaya elastis, lentur, luwes dan supaya tidak ada bagian bagian tubuh  kita yang kaku selama latihan-latihan nanti.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pelaksanaan olah tubuh:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pertama sekali mari kita  perhatikan dan rasakan dengan segenap panca indera yang kita punyai.  Dengan memakai rasa kita perhatikan seluruh tubuh kita, mulai dari ujung  rambut sampai ujung kaki.&lt;br /&gt;Sekarang mari kita menggerakkan tubuh kita.&lt;br /&gt;Jatuhkan kepala ke  depan. Kemudian jatuhkan ke belakang, ke kiri, ke kanan. Ingat  kepala/leher dalam keadaan lemas, seperti orang mengantuk.&lt;br /&gt;Putar  kepala pelan pelan dan rasakan lekukan lekukan di leher, mulai dari  muka. kemudian ke kiri, ke belakang dan ke kanan. Begitu seterusnya dan  lakukan berkali kali. Ingat, pelan pelan dan rasakan !&lt;br /&gt;Putar bahu ke  arah depan berkali kali, juga ke arah belakang. Pertama satu-persatu  terlebih dahulu, baru kemudian bahu kiri dan kanan diputar serentak.&lt;br /&gt;Putar bahu kanan ke arah depan, sedangkan bahu kiri diputar ke arah belakang.  Demikian pula sebaliknya.&lt;br /&gt;Rentangkan tangan kemudian putar pergelangan tangan, putar batas  siku, putar tangan keseluruhan. Lakukan berkali kali, pertama tangan  kanan dahulu, kemudian tangan kiri, baru bersama sama.&lt;br /&gt;Putar pinggang ke kiri, depan, kanan, belakang. Juga sebaliknya.&lt;br /&gt;Ambil posisi berdiri yang sempurna, lalu angkat kaki kanan dengan  tumpuan pada kaki kiri. Jaga jangan sampai jatuh. Kemudian putar  pergelangan kaki kanan, putar lutut kanan, putar seluruh kaki kanan.  Kerjakan juga pada kaki kiri sesuai dengan cara di atas.&lt;br /&gt;Sebagai pembuka dan penutup olah tubuh ini, lakukan iari lari di tempat dan  meloncat loncat.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Macam Macam Gerak:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang memerlukan gerak  dalam hidupnya. Banyak gerak yang dapat dilakukan manusia. Dalam  latihan dasar teater, kita juga harus mengenal dengan baik bermacam  macam gerak Latihan latihan mengenai gerak ini harus diperhatikan secara  khusus oleh seseorang yang berkecimpung dalam bidang teater.&lt;br /&gt;Pada dasarnya gerak dapat dibagi menjadi dua, yaitu&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gerak teaterikal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gerak teaterikal adalah gerak  yang dipakai dalam teater, yaitu gerak yang lahir dari keinginan  bergerak yang sesuai dengan apa yang dituntut dalam naskah. Jadi gerak  teaterikal hanya tercipta pada waktu memainkan naskah drama.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gerak non teaterikal&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gerak non teaterikal adalah  gerak kita dalam kehidupan sehari hari. Gerak yang dipakai dalam teater  (gerak teaterikal) ada bermacam macam, secara garis besar dapat kita  bagi menjadi dua, yaitu gerak halus dan gerak kasar.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gerak Halus&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gerak halus adalah gerak pada raut  muka kita atau perubahan mimik, atau yanq lebih dikenal lagi dengan  ekspresi. Gerak ini timbul karena pengaruh dari dalam/emosi, misalnya  marah, sedih, gembira, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Gerak Kasar&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Gerak kasar adalah gerak dari  seluruh/sebagian anggota tubuh kita. Gerak ini timbul karena adanya  pengaruh baik dari luar maupun dari dalam. Gerak kasar masih dapat  dibagi menjadi empat bagian. yaitu:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Business&lt;/strong&gt;,  adalah gerak gerak kecil yang kita lakukan tanpa penuh kesadaran Gerak  ini kita lakukan secara spontan, tanpa terpikirkan (refleks). Misalnya:&lt;br /&gt;- sewaktu kita sedang mendengar alunan musik, secara tak sadar kita menggerak  gerakkan tangan atau kaki mengikuti irama musik.&lt;br /&gt;- sewaktu kita sedang belajar/membaca, kaki kita digigit nyamuk. Secara  refleks tangan kita akan memukul kaki yang tergigit nyamuk tanpa  kehilangan konsentrasi kita pada belajar.&lt;br /&gt;Gestures, adalah gerak  gerak besar yang kita lakukan. Gerak ini adalah gerak yang kita lakukan  secara sadar. Gerak yang terjadi setelah mendapat perintah dari  diri/otak kita Untuk melakukan sesuatu, misalnya saja menulis, mengambil  gelas, jongkok, dsb.&lt;br /&gt;Movement, adalah gerak perpindahan tubuh dari  tempat yang satu ke tempat yang lain. Gerak ini tidak hanya terbatas  pada berjalan saja, tetapi dapat juga berupa berlari, bergulung gulung,  melompat, dsb.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Guide,&lt;/strong&gt; adalah cara berjalan. Cara berjalan disini  bisa bermacam-macam. Cara berjalan orang tua akan berbeda dengan cara  berjalan seorang anak kecil, berbeda pula dengan cara berjalan orang  yang sedang mabuk, dsb.&lt;br /&gt;Setiap gerakan yang kita lakukan harus  mempunyai arti, motif dan dasar. Hal ini harus benar-benar diperhatikan  dan harus diyakini benar-benar oleh seorang pemain apa maksud dan  maknanya ia melakukan gerakan yang demikian itu. Dalam latihan gerak,  kita mengenal latihan "gerak-gerak dasar". Latihan mengenai gerak-gerak  dasar ini kita bagi menjadi tiga bagian, yaitu:&lt;br /&gt;- Gerak dasar bawah:  posisinya dalam keadaan duduk bersila. Di sini kita hanya boleh  bergerak sebebasnya mulai dari tempat kita berpijak sampai pada batas  kepala kita.&lt;br /&gt;- Gerak dasar tengah: posisi kita saat ini dalam  keadaan setengah berdiri. Di sini kita diperbolehkan bergerak mulai dari  bawah sampai diatas kepala.&lt;br /&gt;- Gerak dasar atas: di sini kita boleh bergerak sebebas-bebasnya tanpa ada batas.&lt;br /&gt;Dalam melakukan gerak-gerak dasar diatas kita dituntut untuk  berimprovisasi / menciptakan gerak-gerak yang bebas, indah dan artistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latihan-latihan gerak yang lain:&lt;br /&gt;Latihan cermin.&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Dua orang berdiri berhadap-hadapan satu sama lain. Salah seorang lalu  membuat gerakan dan yang lain menirukannya, persis seperti apa yang  dilakukan temannya, seolah-olah sedang berdiri didepan cermin. Latihan  ini dilakukan bergantian.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latihan gerak dan tatap mata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Sama dengan latihan  cermin, hanya waktu berhadapan mata kedua orang tadi saling tatap,  seolah kedua pasang mata sudah saling mengerti apa yang akan digerakkan  nanti.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latihan melenturkan tubuh&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Seseorang berdiri  dalam keadaan lemas. Kemudian seorang lagi membantu mengangkat tangan  temannya. Setelah sampai atas dijatuhkan. Dapat juga sebelum dijatuhkan  lengan / tangan tersebut diputar-putar terlebih dahulu.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latihan gerak bersama&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Suatu kelompok yang  terdiri dari beberapa orang melakukan gerakan yang sama seperti  dilakukan oleh pemimpin kelompok tersebut, yang berdiri didepan mereka.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Latihan gerak mengalir&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Suatu kelompok yang  terdiri beberapa orang saling bergandengan tangan, membentuk lingkaran.  Kemudian salah seorang mulai melakukan gerakan ( menggerakkan tangan  atau tubuh ) dan yang lain mengikuti gerakan tangan orang yang  menggandeng tangannya. Selama melakukan gerakan, tangan kita jangan  sampai terlepas dari tangan teman kita. Latihan ini dilakukan dengan  memejamkan mata dan konsentrasi, sehingga akan terbentuk gerakan yang  artistik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;GERAK DAN VOKAL&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Setelah kita  berlatih tentang vokal dan gerak secara terpisah, maka sekarang kita  mencoba untuk memadukan antara vokal dan gerak. Banyak bentuk-bentuk  latihan yang dapat dilakukan, antara lain mengucapkan kalimat yang  panjang sambil berlari-lari, melompat, jongkok, bergulung-gulung, atau  juga bisa dengan memutar-mutar kepala, memutar-mutar tubuh, dan  sebagainya. Latihan ini berguna sekali bagi kita pada waktu acting.  Tujuannya adalah agar vokal dan gerak kita selalu serasi, agar gerak  kita tidak terlalu banyak berpengaruh pada vokal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGGUNAAN PANCAINDERA&lt;/strong&gt; &lt;br /&gt;Manusia yang normal dikaruniai Tuhan dengan lima panca indera secara  utuh. Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu menggunakan panca indera  kita tersebut, baik secara bersama-sama ataupun sendiri-sendiri. Dalam  teater kita juga harus menggunakan indera kita dengan baik agar dapat  memainkan suatu peran dengan baik pula.&lt;br /&gt;Supaya alat-alat indera kita  dapat bekerja semaksimal mungkin, tentu saja harus dilatih. Hal ini  sangat perlu dalam teater untuk membantu kita dalam membentuk ekspresi.  Bentuk-bentuk latihan yang dapat dilakukan, antara lain:&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Mata&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Duduk bersila sambil menatap suatu titik di  dinding. Konsentrasi hanya pada titik tersebut. Usahakan menatap titik  tersebut tanpa berkedip, selama mungkin.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Telinga&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Duduk bersila, pejamkan mata. Sementara  itu seseorang mengetuk-ngetuk sesuatu pada beberapa macam benda, dimana  setiap benda memiliki nada / suara yang berlainan. Hitunglah berapa kali  ketukan pada benda yang sudah ditentukan.&lt;br /&gt;Duduklah ditepi jalan  yang ramai, sambil memejamkan mata. Cobalah untuk mengenali suara apa  saja yang masuk ke telinga, misalnya suara truk, bus, sepeda motor,  suara tawa seseorang diatas sepeda motor, suara sepatu diatas  trotoar,dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Hidung&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Duduk ditepi jalan  sambil memejamkan mata, kemudian cobalah untuk mengenali bau apa yang  ada disekitar kita. Misalnya bau keringat orang yang lewat didepan kita,  bau parfum, asap knalpot, asap rokok, atau tanah yang baru disiram  hujan, dsb.&lt;br /&gt;Ciumlah tangan, kaki, pakaian, dan jika bisa seluruh tubuh kita, rasakan dan  hayati benar-benar bagaimana baunya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Kulit&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rabalah tangan, kaki, kepala dan seluruh  tubuh kita, juga pakaian kita. Rasakan dan kenalilah tubuh kita itu,  cari perbedaan antara setiap tubuh.&lt;br /&gt;Rabalah dinding, lantai, meja,  atau benda-benda lain. Perhatikanlah bagaimana rasanya, dingin atau  panas. Juga sifatnya halus atau kasar dan coba juga mengenali bentuknya.  Lakukan latihan ini dengan mata terpejam.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Lidah&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Rabalah dengan lidah bagaimana bentuk mulut kita, bagaimana bentuk gigi,  langit-langit, bibir, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Rasakan dengan menjilat, bagaimana rasa dari sebuah kancing baju, sapu tangan,  batang pensil, tangan yang berkeringat,dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KARAKTERISASI&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Karakterisasi  adalah suatu usaha untuk menampilkan karakter atau watak dari tokoh  yang diperankan. Tokoh-tokoh dalam drama, adalah orang-orang yang  berkarakter. Jadi seorang pemain drama yang baik harus bisa menampilkan  karakter dari tokoh yang diperankannya dengan tepat. Dengan demikian  penampilannya akan menjadi sempurna karena ia tidak hanya menjadi figur  dari seorang tokoh saja, melainkan juga memiliki watak dari tokoh  tersebut.&lt;br /&gt;Agar kita dapat memainkan tokoh yang berkarakter seperti yang  dituntut naskah, maka kita harus terlebih dahulu mengenal watak dari  tokoh tersebut. Suatu misal, kita dapat peran menjadi seorang pengemis.  Nah, kita harus mengenal secara lengkap bagaimana sifat-sifatnya,  tingkah lakunya, dsb. Apakah dia seorang yang licik, pemberani, atau  pengecut, alim, ataukah hanya sekedar kelakuan yang dibuat-buat.&lt;br /&gt;Demikianlah, kita menyadari bahwa untuk memerankan suatu tokoh, kita  tidak hanya memerankan jabatannya, tetapi juga wataknya. Misalnya:&lt;br /&gt;Tokoh (A) … jabatan (lurah) … watak (licik, pura-pura, pengecut)&lt;br /&gt;Tokoh (B) … jabatan (jongos) … watak (baik hati, ramah, jujur, mengalah)&lt;br /&gt;Untuk melatih karakteristik dapat dipakai cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;Dengan menirukan gerak-gerak dasar yang biasa dilakukan oleh pengemis,  kakek, anak kecil, pemabuk, orang buta, dsb. (yang dimaksud dengan  gerak-gerak dasar disini adalah cirri-ciri khas)&lt;br /&gt;Dua orang atau  lebih, berdiri dan berkonsentrasi, kemudian salah satu memberi perintah  kepada temannya untuk bertindak / berlaku sebagai tokoh dari apa yang  diceritakan. Untuk membantu memberi suasana, dapat memakai musik  pengiring.&lt;br /&gt;Untuk memperdalam mengenai karakteristik, maka agaknya  perlu juga kita mempelajari observasi, ilusi, imajinasi dan emosi. Untuk  itu marilah kita kenali satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;OBSERVASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Observasi adalah suatu metode untuk mempelajari / mengamati seorang  tokoh. Bagaimana tingkah lakunya, cara hidupnya, kebiasaannya,  pergaulannya, cara bicaranya, dsb. Setelah kita mengenal segala sesuatu  tentang tokoh tersebut, kita akan mengetahui wujud dari tokoh itu.  Setelah itu baru kita menirukannya. Dengan demikian kita akan menjadi  tokoh yang kita ingini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;ILUSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Ilusi adalah  bayangan atas suatu peristiwa yang akan terjadi maupun yang telah  terjadi, baik yang dialami sendiri maupun yang tidak. Kejadian itu dapat  berupa pengalaman, hasil observasi, mimpi, apa yang dilihat, dirasakan,  ataupun angan-angan, kemungkinan-kemungkinan, ramalan, dan lain  sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Cara-cara melatihnya antara lain:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Menyampaikan data-data tentang suatu kecelakaan, kebakaran, dsb.&lt;br /&gt;Bercerita tentang perjalanan keliling pulau Jawa, ketika dimarahi guru, dsb.&lt;br /&gt;Menyampaikan pendapat tentang lingkungan hidup, sopan santun dikampung, dsb.&lt;br /&gt;Menyampaikan keinginan untuk menjadi raja, polisi, dewa, burung, artis, dsb.&lt;br /&gt;Berangan-angan bahwa kelak akan terjadi perang antar planet, dsb.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;IMAJINASI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi adalah suatu cara untuk  menganggap sesuatu yang tidak ada menjadi seolah-olah ada. Kalau ilusi  obyeknya adalah peristiwa, maka imajinasi obyeknya benda atau sesuatu  yang dibendakan. Tujuannya adalah agar kita tidak hanya selalu  menggantungkan diri pada benda-benda yang kongkrit. Juga diatas pentas,  penonton akan melihat bahwa apa yang ditampilkan tampak benar-benar  terjadi walaupun sesungguhnya tidak terlihat, benar-benar dialami sang  pelaku. Kemampuan untuk berimajinasi benar-benar diuji bilamana kita  sedang memainkan sebuah pantomim.&lt;br /&gt;Sebagai contoh, dalam naskah OBSESI, terjadi dialog antara pemimpin  koor dengan roh suci. Roh suci disini hanya terdengar suaranya, tetapi  pemain harus menganggap bahwa roh suci benar-benar ada. Dalam contoh  lain dapat kita lihat pada sebuah naskah yang didalamnya terdapat sebuah  dialog, sebagai berikut: &lt;em&gt;"Hei letnan, coba perhatikan perempuan  berkaca mata gelap didepan toko itu. Perhatikan topi dan tas hitam yang  dipakainya. Rasa-rasanya aku pernah melihat tas dan topi itu dipakai  Nyonya Lisa beberapa saat sebelum terjadi pembunuhan"&lt;/em&gt;. Yang  dibicarakan tokoh diatas sebenarnya hanya khayalan saja. Perempuan  berkaca mata gelap, bertopi, dan bertas hitam tidak terlihat atau tidak  tampak dalam pentas.&lt;br /&gt;Telah disebutkan bahwa obyek imajinasi adalah benda atau sesuatu yang  dibendakan, termasuk disini segala sifat dan keadaannya. Sebagai  latihan dapat dipakai cara-cara sebagai berikut:&lt;br /&gt;Sebutkan sebanyak mungkin benda-benda yang terlintas di otak kita. Jangan sampai menyebutkan sebuah benda lebih dari satu kali.&lt;br /&gt;Sebutkan sebuah benda yang tidak ada disekitar kita kemudian  bayangkan dan sebutkan bentuk benda itu, ukurannya, sifatnya,  keadaannya, warna, dsb.&lt;br /&gt;Menganggap atau memperlakukan sebuah benda  lain dari yang sebenarnya. Contohnya, menganggap sebuah batu adalah  suatu barang yang sangat lucu, baik itu bentuknya, letaknya, dsb.  Sehingga dengan memandang batu tersebut kita jadi tertawa  terpingkal-pingkal.&lt;br /&gt;Menganggap sesuatu benda memiliki sifat yang  berbeda-beda. Misalnya sebuah pensil rasanya menjadi asin, pahit, manis  kemudian berubah menjadi benda yang panas, dingin, kasar, dsb.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;EMOSI&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Emosi dapat diartikan sebagai ungkapan  perasaan. Emosi dapat berupa perasaan sedih, marah, benci, bingung,  gugup, dsb. Dalam drama, seorang pemain harus dapat mengendalikan dan  menguasai emosinya. Hal ini penting untuk memberikan warna bagi tokoh  yang diperankan dan untuk menunjang karakter tokoh tersebut. Emosi juga  sangat mempengaruhi tubuh, yaitu tingkah laku, roman muka (ekspresi),  pengucapan dialog, pernapasan, niat. Niat disini timbul setelah emosi  itu terjadi, misalnya setelah marah maka tinbul niat untuk memukul, dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;PENGHAYATAN&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penghayatan adalah mengamati serta mempelajari isi dari naskah untuk  diterpakan tubuh kita. Misalnya pada waktu kita berperan sebagai Pak  Usman yang berprofesi sebagai polisi, maka saat itu kita tidak lagi  berperan sebagai diri kita sendiri melainkan menjadi Pak Usman yang  berprofesi sebagai polisi. Hal inilah yang harus kita terapkan dengan  baik jika kita akan memainkan sebuah naskah drama.&lt;br /&gt;&lt;strong&gt; Cara-cara yang dipergunakan dalam penghayatan adalah:&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Pelajari naskah secara keseluruhan, supaya dapat mengetahui apa yang  dikehendaki oleh naskah, problema apa yang ditonjolkan, serta apa titik  tolak dan inti dari naskah.&lt;br /&gt;Melakukan gerak serta dialog yang  terdapat dalam naskah. Jadi disini kita sudah mendapat gambaran tentang  akting dari tokoh yang akan kita perankan.&lt;br /&gt;Sebagai latihan cobalah  membaca sebuah naskah / dialog dengan diiringi musik sebagai pembantu  pemberi suasana. Hayati dulu musiknya baru mulailah membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;KOMPOSISI PENTAS&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Komposis pentas adalah pembagian pentas menurut bagian-bagian yang  tertentu. Komposisi pentas ini dibuat untuk membantu blocking, dimana  setiap bagian pentas mempunyai arti tersendiri.&lt;strong&gt;&amp;nbsp;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Kadar kekuatan pentas dapat dilihat pada urutan penempatannya. Bagian  depan lebih kuat daripada bagian belakang. Bagian kanan lebih kuat  daripada bagian kiri. Oleh karena itu jangan menempatkan diri atau benda  yang kadar kekuatannya tinggi pada bagian yang kuat. Carilah  tempat-tempat yang sesuai agar blocking kelihatan seimbang. Walaupun  demikian harus tetap dalam batas-batas yang wajar, jangan terlalu  dibuat-buat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disadur dari www.jendelasastra.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/457248607798593997-6449720524505220834?l=yogijd28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yogijd28.blogspot.com/feeds/6449720524505220834/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/10/dasar-dasar-bermain-drama.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/6449720524505220834'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/6449720524505220834'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/10/dasar-dasar-bermain-drama.html' title='Dasar-Dasar Bermain Drama'/><author><name>Yogi Januar Mufthi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03448455239265905302</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4e4PI6a4Nqc/TI3o6Vw_P8I/AAAAAAAAAAM/oQ8ITmLbN7o/S220/yogi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-457248607798593997.post-5800971680214744877</id><published>2010-10-03T02:27:00.001-07:00</published><updated>2010-10-03T02:27:57.373-07:00</updated><title type='text'>Buat Kamu</title><content type='html'>kagen  itu selalu tumbuh menjalari seluruh tubuh,&lt;br /&gt;bagai air yang selalu mengalir&lt;br /&gt;hanya ia yang mengerti…&lt;br /&gt;Lalu,&lt;br /&gt;biarkanlah angin menyapu pasir&lt;br /&gt;membawanya terbang bertemu awan&lt;br /&gt;bersimpuh, menanti kening langit tak berkerut lagi,,&lt;br /&gt;Lalu ia kehilangan cahaya surya,&lt;br /&gt;berganti kelabu beku,&lt;br /&gt;sampai kau menangis…&lt;br /&gt;berteriak dan menghasilkan petir..&lt;br /&gt;dan..&lt;br /&gt;ketika tangis terasa tak berarti,&lt;br /&gt;ia datang menghadiahkan mu.,&lt;br /&gt;sebuah pelangi…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;disandur dari bangfad.com&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/457248607798593997-5800971680214744877?l=yogijd28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yogijd28.blogspot.com/feeds/5800971680214744877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/10/buat-kamu.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/5800971680214744877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/5800971680214744877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/10/buat-kamu.html' title='Buat Kamu'/><author><name>Yogi Januar Mufthi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03448455239265905302</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4e4PI6a4Nqc/TI3o6Vw_P8I/AAAAAAAAAAM/oQ8ITmLbN7o/S220/yogi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-457248607798593997.post-1032670603918695234</id><published>2010-09-22T19:20:00.000-07:00</published><updated>2010-09-22T19:20:06.908-07:00</updated><title type='text'>Johann Wolfgang von Goethe</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;b&gt;Johann Wolfgang von Goethe&lt;/b&gt; &lt;span class="unicode" style="white-space: nowrap;"&gt; &lt;a class="internal" href="http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/9/99/De-Johann_Wolfgang_von_Goethe.ogg" title="De-Johann Wolfgang von Goethe.ogg"&gt;dengarkan&lt;/a&gt; &lt;small class="metadata audiolinkinfo" style="cursor: help;"&gt;(&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Memainkan_berkas_media" title="Wikipedia:Memainkan berkas media"&gt;&lt;span style="cursor: help;"&gt;bantuan&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;·&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Berkas:De-Johann_Wolfgang_von_Goethe.ogg" title="Berkas:De-Johann Wolfgang von Goethe.ogg"&gt;&lt;span style="cursor: help;"&gt;info&lt;/span&gt;&lt;/a&gt;)&lt;/small&gt;&lt;/span&gt; (&lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/International_Phonetic_Alphabet" title="International Phonetic Alphabet"&gt;IPA&lt;/a&gt;: ˈgøːtə|dena) (&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/28_Agustus" title="28 Agustus"&gt;28 Agustus&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1749" title="1749"&gt;1749&lt;/a&gt;–&lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/22_Maret" title="22 Maret"&gt;22 Maret&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/1832" title="1832"&gt;1832&lt;/a&gt;) adalah &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Novel" title="Novel"&gt;novelis&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Sastra" title="Sastra"&gt;sastrawan&lt;/a&gt;, &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Humanis" title="Humanis"&gt;humanis&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Ilmuwan" title="Ilmuwan"&gt;ilmuwan&lt;/a&gt;, dan &lt;a class="mw-redirect" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Filsuf" title="Filsuf"&gt;filsuf&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Jerman" title="Jerman"&gt;Jerman&lt;/a&gt;.&lt;br /&gt;Goethe adalah salah satu dari tokoh terpenting dalam dunia &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Sastra_Jerman&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Sastra Jerman (halaman belum tersedia)"&gt;sastra Jerman&lt;/a&gt; dan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Neoklasisisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Neoklasisisme (halaman belum tersedia)"&gt;Neoklasisisme&lt;/a&gt; dan &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Romantisme&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Romantisme (halaman belum tersedia)"&gt;Romantisme&lt;/a&gt; &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Eropa" title="Eropa"&gt;Eropa&lt;/a&gt; pada akhir &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-18" title="Abad ke-18"&gt;abad ke-18&lt;/a&gt; dan awal &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Abad_ke-19" title="Abad ke-19"&gt;abad ke-19&lt;/a&gt;. Ia adalah pengarang &lt;i&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Faust&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Faust (halaman belum tersedia)"&gt;Faust&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;&lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Zur_Farbenlehre&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Zur Farbenlehre (halaman belum tersedia)"&gt;Zur Farbenlehre&lt;/a&gt;&lt;/i&gt; (Teori Warna), serta merupakan inspirasi bagi &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Charles_Darwin" title="Charles Darwin"&gt;Darwin&lt;/a&gt; dengan penemuan terpisahnya terhadap tulang rahang &lt;a class="new" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Pramaksilia&amp;amp;action=edit&amp;amp;redlink=1" title="Pramaksilia (halaman belum tersedia)"&gt;pramaksilia&lt;/a&gt; manusia dan fokusnya kepada &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Evolusi" title="Evolusi"&gt;evolusi&lt;/a&gt;. Pengaruh Goethe tersebar di sepanjang Eropa, dan selama seabad ke depan karyanya merupakan sumber inspirasi utama dalam &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Musik_klasik" title="Musik klasik"&gt;musik&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Drama" title="Drama"&gt;drama&lt;/a&gt;, dan &lt;a href="http://id.wikipedia.org/wiki/Puisi" title="Puisi"&gt;puisi&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;dikutip dari www.id.wikipedia.org&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/457248607798593997-1032670603918695234?l=yogijd28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yogijd28.blogspot.com/feeds/1032670603918695234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/09/johann-wolfgang-von-goethe.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/1032670603918695234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/1032670603918695234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/09/johann-wolfgang-von-goethe.html' title='Johann Wolfgang von Goethe'/><author><name>Yogi Januar Mufthi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03448455239265905302</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4e4PI6a4Nqc/TI3o6Vw_P8I/AAAAAAAAAAM/oQ8ITmLbN7o/S220/yogi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-457248607798593997.post-877814150234846818</id><published>2010-09-21T23:52:00.001-07:00</published><updated>2010-09-21T23:52:53.409-07:00</updated><title type='text'>SUFISME DALAM PUISI ACEP ZAM ZAM NOOR</title><content type='html'>&lt;i&gt;&lt;b&gt;Oleh: Pungkit Wijaya &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sastra sufi identik dengan perenungan   diri terhadap sang Ilahi, yang dibahasakan dengan bahasa Cinta. Cinta   ini mematuhi Tuhan; Membenci sikap yang melawan Tuhan; berserah diri   pada Tuhan; dan menjauhi segala kecenderungan yang melalaikan kita   terhadap Nya, karena bersumber pada realitas kehidupan yang tidak dapat   dijelaskan melalui pemahaman logis rasional dan tak dapat diserap panca   indra, maka yang harus aktif adalah akal intuitif yang dijelaskan  lewat  imajinatif kreatif. Dengan yang intuitif dan imajinatif kreatif  berarti  hanya dapat menggunakan simbol-simbol tertentu dalam bahasa  figuratife. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acep ZamZam Noor adalah putra pertama ulama besar almarhum K.H ilyas   Ruhiat, mantan rois Aam PBNU yang memiliki pesantren   Cipasung,Tasikmalaya. Meskipun kental dengan tradisi kepesantrenan Acep   secara akademisi berbasiskan ilmu seni rupa, setelah dia menyelesaikan   SLTA di pondok Pesantren As’syafi’iyah, Jakarta. lalu menempuh   pendidikannya ke Jurusan Seni Lukis Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB   (1980-1987). Mendapat fellowship dari Pemerintah Italia untuk tinggal   dan berkarya di Perugia, Italia (1991-1993). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Kang Acep,sapaan akrab Acep ZamZam Noor, adalah salah   seorang penyair yang berbasiskan pesantren .Oleh karena itu, saat   membaca puisi-puisinya sebenarnya dia sekaligus seorang kiai, seniman,   sastrawan, pelukis dan budayawan yang tidak lepas dari sisi religiutas   dan sufisme seorang penyair-santri yang sunyi penuh dengan do’a, mesra,   tetapi sarat kritik sosial. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan khazanah kesusastraan sufisme di Indonesia sebenarnya tidak   bisa lepas dari peran serta penyair dari pesantren. Dalam sejarah   kesusastraan Indonesia kita mengenal Taufiq Ismail, Abdul Hadi W.M, KH   Mustofa Bisri, KH D Zawawi Imron, Emha Ainun Najib, Ahmad Tohari, KH   Muhammad Zuhri dan sekian banyak nama yang memiliki nilai religiutas   dalam setiap karya sastra mereka, dari puisi, cerpen maupun lain nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam beberapa puisinya, Kang Acep agaknya mengedepankan sisi religiutas   yang mesra. Pengalaman penyair yang penuh perenungan tersebut dapat   kita baca, misalnya pada potongan bait sajaknya yang berjudul   “Cipasung”.”cangkul ku iman dan sajadahku lumpur/hari esok adalah   perjalanku sebgai petani/tanpa ketam masih ingin kupanen kesabaranmu   yang lain/atas sajadah lumpur akutersungkur dan terbukur/.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam puisi di atas kita lihat setiap baris kata yang menggambarkan   kesantunan seorang Acep meski juga tergambar jelas keadaan sosiokultur   Cipasung sebagai kota santri, dalam bait ketiga, ‘cangkul ku iman dan   sajadahku lumpur ‘. Di sana kang Acep terlihat sebagai seorang yang   mempunyai nilai spiritual yang kental. Lalu Peran Kiai dia pertegas   dalam ‘hari esok adalah perjalananku sebagai petani’ dan simbol petani   saya analogikan seperti Kiai yang harus siap melayani setiap pengajian   amal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini bagaimana sosok penyair sufistik, “atas sajah lumpur aku   tersungkur dan terkubur”, cita-cita kang Acep mungkin tidak seperti para   politisi atau pejabat negara yang ingin berlomba-lomba dalam harta dan   tidak lantas ingin tinggal menetap di luar negeri namun bercita-cita   menjadi ‘doa’ dan ingin kembali ke daerah dia dilahirkan dengan   perjalannya sebagai petani dengan memanen ketam kesabaran nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seakan cita-cita Kang Acep dia tegaskan dalam puisi nya yang berjudul ‘   aku kini doa’, kini aku doa/tolong jangan kotori kemurnianku dengan   kata-kata/. Dalam bait sajak tersebut dituliskan sebuah pengharapan   kemurnian sebagai seorang religius dan kata yang terakhir berelasi dalam   kehidupan nyata seperti para politisi yang sering mengumbar kata-kata   atau janji-janji saat berkampanye. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketulusan terhadap Tuhan sebagai penyair sufistik, saya kutip dalam   sebuah esai yang pernah dia tulis yang berjudul intensitas. dia   mengatakan bahwa saya tertarik pada puisi-puisi sufi, dapat kita baca   juga, dalam ‘sajak nakal’. doa-doaku/menyelinapkedalam kutangmu/seperti   tangan/tanganku/nakal/seperti doa/meremas payudaramu disorga/, yang   termuat dalam antologi puisinya Menjadi Penyair Lagi (2007) setelah   kumpulan Antologinya Tamparlah Muka Ku (1982), Aku Kini Doa (1986),   Kasidah Sunyi (1989), Dayeuh Matapoe (puisi Sunda, 1993), Dari Kota   Hujan (1996), Di Luar Kata (1996), Di Atas Umbria (1999), Dongeng dari   Negeri Sembako (2001), Jalan Menuju Rumahku (2004). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian Acep mempunyai cara berdakwah berbeda dengan memilih   jalur kesusastraan sebagai mediasi untuk memperjuangkan nilai-nilai   keislaman di indonesia. Tak lupa aspek lokalitas daerah yang selalu   diangkat dalam beberapa puisinya, yang dapat kita sandingkan upayanya   dengan, misalnya Ahmad faisal Imron (Darul Arqom) KH Maman Imanulhaq   (Majalengka). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya mereka disadari atau tidak sedang melakukan dakwah lewat   jalur seni, khususnya Kang Acep, Kang Ahmad dan Kang Maman yang menjadi   penyair dan berdakwah lewat puisi, yang memiliki pesan terhadap semua   orang yang membacanya. Baik dari orang muslim ataupun non muslim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Acep Zam-Zam dalam sebuah essainya yang berjudul ‘puisi dan batu akik’   yang dia tulis saat acara Khatulistiwa literary Award 2008-2009 pernah   mengatakan bahwa menulis puisi sebagai jalan hidup yang aneh, dan tidak   dapat menerangkannya secara rasional, sementara teori batu akik dan  bulu  kuduknya mampu menjadikan seseorang menulis puisi dengan semua  tahapan  yang prosesnya tidak mudah ini harus dikerjakan dengan penuh  intensitas,  dengan kekhusyukan, kesabaran dan ketulusan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain dilakukan dengan cinta. Makna cinta ini tentu   metafornya adalah mencintai puisi sekaligus mencintai sang ilahi. Dan   teori bulu kuduknya mengisyaratkan bahwa proses mistifikasi harus penuh   penghayatan dan perenungan. Maka seorang Acep Zamzam Noor mampu   memenangkan beberapa penghargaan atas sejumlah karyanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pungkit Wijaya,kuliah di jurusan Bahasa dan Sastra Inggris Fakultas Adab   dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Bergiat di Sasaka   (Sanggar Sastra Kampus) UIN Sunan Gunung Djati Bandung. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/457248607798593997-877814150234846818?l=yogijd28.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://yogijd28.blogspot.com/feeds/877814150234846818/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/09/sufisme-dalam-puisi-acep-zam-zam-noor.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/877814150234846818'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/457248607798593997/posts/default/877814150234846818'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://yogijd28.blogspot.com/2010/09/sufisme-dalam-puisi-acep-zam-zam-noor.html' title='SUFISME DALAM PUISI ACEP ZAM ZAM NOOR'/><author><name>Yogi Januar Mufthi</name><uri>http://www.blogger.com/profile/03448455239265905302</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='24' height='32' src='http://4.bp.blogspot.com/_4e4PI6a4Nqc/TI3o6Vw_P8I/AAAAAAAAAAM/oQ8ITmLbN7o/S220/yogi.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
